Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian

Kode : 0001
Judul : Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian
Pengarang : Daisaku Ikeda & KH Abdurrahman Wahid
Kategori : Dialog
ISBN : 978-979-22-6432-6
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Format : Soft Cover, 14 x 21 cm
Edisi : 1, Cetakan : 1, Tahun : 2010
Sipnosis :

Kebudayaan adalah jalan utama menuju peradaban. Peradaban membuat manusia mencintai kehidupan dan menjaga perdamaian. Jalan politik dan ekonomi sudah terlalu pengap dan memberatkan.

Hal itu terungkap dalam buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian terbitan Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Soka Gakkai Indonesia dan The Wahid Institute.

Bedah buku dialog KH Abdurrahman Wahid dengan Daisaku Ikeda berlangsung di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Selasa - 19 April 2010. Narasumber adalah pengajar Sekolah Tinggi Filsafat : Driyarkara Romo Mudji Sutrisno, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU : Abdul Mun’im, Ketua Umum Soka Gakkai Indonesia : Peter Nurhan, dan Direktur The Wahid Institute : Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid).

KH Abdurrahman Wahid atau sering dipanggil "Gus Dur" dan pendiri Institut Filsafat Timur Daisaku Ikeda, menurut Romo Mudji, mengingatkan masalah peradaban dengan dialog pemikiran Arnold Joseph Toynbee. Toynbee menilai peradaban hancur ketika kemampuan kreatif gagal menghadapi dis-integrasi, ketika terjadi penolakan mayoritas penyusun peradaban untuk membentuk proses mimesis - proses kultural untuk mewujudkan mimpi bersama - serta ketika kohesi sosial dan saling percaya di antara masyarakat hilang. Peradaban justru muncul dari jalur kebudayaan yang kuat.

Oleh karena itu, dialog Gus Dur dan Daisaku Ikeda yang pendiri Soka Gakkai International, menurut Romo Mudji, semestinya dilanjutkan sebagai jalan kebudayaan untuk peradaban Indonesia. ”Jalan politis terlalu pengap dan (orang-orangnya) berantem terus, sedangkan jalan ekonomi terlalu memberatkan dengan kalkulasi untung-rugi,” tuturnya.

Kekuatan kebudayaan sebagai pembentuk peradaban yang disampaikan dialog kedua tokoh itu, menurut Abdul Mun’im, ditunjukkan dengan pemahaman mendalam kedua tokoh tersebut atas kebudayaan lawan bicaranya. Gus Dur, misalnya, mampu berbicara mendetail tentang sastrawan Jepang, seperti Yoshinari dan sutradara Akira Kurosawa, sementara Ikeda memahami karya Prapanca sampai Pramudya Ananta Toer.

Yenny Wahid menambahkan, kendati secara fisik Gus Dur dan Ikeda hanya beberapa kali bertemu, pemikiran mereka sangat cocok. Itu karena keduanya digerakkan pikiran yang berbasis kebenaran


Profile Penulis

DAISAKU IKEDA adalah filsuf Buddha, tokoh perdamaian, pendidik, penulis, sekaligus penyair. Dia adalah presiden pendiri Soka Gakkai International (SGI), yang kini merupakan salah satu organisasi Budha terbesar di dunia. Lembaga yang didirikan pada 26 Januari 1975, dan memiliki anggota aktif lebih dari 12 juta orang ini, konsisten mempromosikan pengembangan karakter dan perdamaian. Sejak tahun 1983, PBB menganugrahkan "Penghargaan Perdamaian", "Penghargaan Kemanusiaan" dan gelar "Duta Perdamaian" kepadanya atas kontribusinya dalam mempromosikan Perdamaian.

ABDURRAHMAN WAHID atau GUS DUR yang didalam dirinya terangkum multi telenta : guru bangsa, intelektual, budayawan, ulama, aktivis sosial, pejuang demokrasi, pejuang pluralisme dan sederet gelar lainnya. Semuanya ia perankan secara baik sepanjang hidupnya. Menulis dan ceramah merupakan medium utama yang digunakan Gus Dur untuk menyalurkan pikiran-pikirannya. Selama 15 tahun, 1984-1999, Gus Dur memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU). Puncak karir politiknya adalah ketika menjabat Presiden Republik Indonesia 1999-2001. Atas kiprah dan jasa-jasanya, Gus Dur menerima 8 gelar Doctor Honoris Causa dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di dunia dan sejumlah tanda penghargaan internasional juga diberikan kepada Gus Dur.


Resensi Para Tokoh

"Buku ini akan menginspirasi siapa saja yang membacanya. Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang plural dan berbhinneka tunggal ika, rasanya kehadiran buku ini akan menambah khasanah untuk bisa dijadikan rujukan penting, sehingga dapat memperkecil adanya gesekan-gesekan di masyarakat, yang belakangan disinyalir makin meningkat frekuensinya." 

-- Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional


"Buku ini memuat dialog Gus Dur dan Daisaku Ikeda yang diadakan dalam beberapa sesi yang telah ditata dengan rapi dan diklasifikasikan dalam bab-bab penting yang menarik untuk dibaca. Kedua tokoh menyuarakan ajaran-ajaran luhur tentang perdamaian, toleransi, dan hak asasi manusia... masalah yang saat ini semakin penting kita perjuangkan."

--Dr. KH Said Aqil Siradj, MA., Ketua Umum PBNU

"Dialog antara kedua tokoh ini memberikan banyak perspektif baru tentang aspek-aspek commonality di antara kedua agama yang sangat penting untuk membangun perdamaian global. Karena itu, dialog di antara kedua tokoh ini selain sangat bermanfaat bagi para penganut kedua agama, juga bagi masyarakat dunia secara keseluruhan yang terus merindukan perdamaian di muka bumi ini."

--Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden RI

 

"Berbagai dialog antara Ikeda dan Kyai Wahid menunjukkan betapa melalui perjumpaan konkret dua penganut agama berbeda dapat menemukan persamaan untuk melangkah menuju perdamaian abadi. Perdamaian bukan kondisi faktual yang kita terima begitu saja. Perdamaian adalah harapan yang harus diperjuangkan semua pihak."

--Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Rektor Universitas Indonesia